Tampilkan postingan dengan label food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label food. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Aneka Hidangan Bunga Rampai

Jakarta - Tak hanya cita rasa hidangan tradisional yang memikat selera tetapi suasana kolonial yang kental membingkai penyajiannya. Ditata apik dengan pilihan bahan prima, pengolahan yang cermat, membuat acara bersantap bagai jamuan internasional. Yang pasti tempat ini memang sulit dilupakan dengan sajian yang sungguh mempesona lidah!

Sesuai dengan namanya Bunga Rampai, maka tampilan buku menu dan nama-nama menunya juga mengikuti nama-nama bunga yang cantik. Hiasan gambar bunga soka, melati dalam nuansa lembut memenuhi buku menu yang dilengkapi dengan keterangan di tiap hidangan.

Menilik dari cutlery, pemilihan linen putih sebagai taplak dan China bone ceramic untuk piring makan makin tampak bahwa resto ini memang berkonsep fine dining. Saya pun menjatuhkan pilihan pada Putik Sari Dua Rasa sebagai pembuka, Nasi Buketan sebagai menu utama dan Satay Cap Jago.


Hidangan pembuka Putih Sari Dua Rasa disajikan menjulang di atas gelas cocktail besar berkaki tinggi. Irisan daging ayam dan ikan dori dipotong memanjang dan dibalut tepung roti yang dicampur biji wijen hitam dan putih. Irisan halus kulit wonton menjadi penghias yang cantik.

Gigitan pertama langsung terasa kerenyahan fingers food ini, gurihnya ikan dori dan ayam berlapis garingnya tepung roti. Yang lebih mempesona justru saus kecombrang yang jadi pelengkapnya. Saus berwarna oranye kemerahan ini menebarkan aroma kecombrang yang wangi segar. Rasa yang asam segar mejadi paduan yang sangat pas buat renyahnya irisan daging ayam dan ikan dori.





Nikmatnya santap siang dengan Begor Asli dari Bali

Bali - Yang ini memang wajib dicicipi oleh penggemar begor. Bebek yang tak terlalu besar, ramping, digoreng dengan panas sempurna. Hasilnya, kulitnya krenyes garing renyah dan dagingnya lembut gurih. Dicocol sambal matah, sambal terasi plus sambal tomat, aduhai sedapnya!

Berputar-putar di kawasan Renon Denpasar, ternyata banyak perubahan. Dulu kawasan ini teduh dengan beberapa kantor, nyaris sepi. Kini mulai dibuka berbagai jenis restoran. Dari seafood, makanan Jepang hingga makanan tradisional.

Makan begor? Hmm... itulah tujuan saya menelusuri kawasan ini. Bukan begor Surabaya atau begor tulang lunak tetapi begor khas Bali. Begor Bali umumnya memakai bebek sawah yang masih muda sehingga dagingnya empuk dan tidak anyir.

Karena itulah saya mampir ke Warung Bendega, yang ada di Jl.Tjok Agung Tresna yang dibuka sejak tahun 1998. Warung (lebih tepatnya restoran) ini memiliki keunggulan menu aneka ikan bakar. Ini sesuai dengan namanya Bendega yang artinya 'nelayan. Meskipun begitu, pilihan saya justru bukan ikan bakar tetapi begor, pelecing kangkung plus sup seafood.

Warung yang bersuasana hijau karena banyak pepohonan ini memiliki area makan yang nyaman. Semilir angin plus gemericik air kolam bisa dirasakan dari tempat duduk serba kayunya. Agaknya warung ini memang lumayan populer. Terbukti di area tengah, di dinding terdapat komentar dan tanda tangan para seleb yang dipigura rapi.

Setengah ekor begor disajikan hangat mengepul, komplet dengan 3 jenis sambal. Waduh, melihat warnanya kecokelatan garing langsung terbit air liur saya! Ukurannya begor ½ ekor ini tak terlalu besar. Disajikan di atas iris kol yang segar renyah plus 3 jenis sambal; sambal matah, sambal terasi dan sambal tomat.

Saat dikoyak dagingnya, hmm... aroma gurih wangi langsung menyerbu hidung. Benar dugaan saya, daging begor ini sungguh lembut, gurih dengan semburat aroma bawang putih dan jahe yang wangi. Yang paling menggiurkan justru kulit bebek goreng yang kecokelatan, tipis, dan kriuk-kriuk renyah. Mirip kulit bebek panggang Peking.

Di bawah kulit renyahnya tak ada lapisan lemak yang tebal, justru lumeran lemak yang tak berlimpah, pas membasahi daging begor yang empuk gurih tadi. Selain bebek yang muda, pastilah cara deep frying-nya sangat tepat suhunya sehingga kulit bebek bisa garing dan dagingnya tetap lembut.

Diadu dengan cocolan sambal matah (irisan bawang merah, cabai rawit merah, serai, garam plus minyak tandusan atau minyak kelapa), rasanya benar-benar menggelitik lidah!Dicocol dengan dua sambal lain juga tak mengecewakan. Justru ada aksen rasa pedas sedikit asam yang harmonis. Tak salah lagi, saya menemukan satu lagi begor Bali yang enak selain Bebek Bengil yang sudah jadi favorit.

Pelecing kangkung yang saya pesan buat pasangan begor ini ternyata sungguh dahsyat. Renyah segar kangkung sawah rebus dengan topping sambal tomat plus taburan kacang tanah goreng. Wouw... sekali suap langsung terasa sengatan cabai yang tajam, diselingi asam segar tomat. Huah.. huah.. pedas menggigit dan menantang untuk dihabiskan!

Sup seafood asam pedas yang menurut pelayan mirip tom yam goong, ternyata tak terlalu memuaskan selera saya. Kuahnya sedikit keruh dengan semburat merah dengan isian ikan, cumi, dan udang. Selain rasanya. Terasa kurang pedas dan asam, tambahan bakso yang diiris justr kurang pas dengan rasa gurih seafood. Untung saja saya sudah terpuaskan dengan begor sehingga sup inipun tak terlalu merusak santap siang yang sedap.

Begor renyah kriuk ini sekaligus membuktikan lagi bahwa kuliner asli Bali ternyata banyak yang enak dan sedap. Soal harga memang bervariasi. Untuk kelas warung Bendega yang lebih mirip resto harga yang ditawarkan relatif mahal, bebek goreng plus pelecing Rp. 65.000,00 dan sup seafood Rp. 24.000,00.

Warung Bendega
Denpasar, Bali


Lamaknyo Sate Danguang-Danguang

sate
Jakarta - Salah satu jenis sate di Sumatera Barat ini tak banyak penjualnya. Irisan daging sapinya kecil berselimut bumbu yang renyah. Panas mengepul, dicocol dengan kuah kentalnya yang kekuningan rasanya main dahsyat. Rasa panas di mulutpun ditumpas dengan segelas es tebak! Onde mande lamaknyo!

Tak ada yang bisa dikerjakan di malam hari saat berada di kota Padang kecuali berkeliling kota. Menikmai semilir angin di jembatan Sitti Nurbaya yang ramai dan padat. Aroma jagung bakarpun tercium lamat-lamat. Atau menikmati seafood di daerah Muara sambil menikmati semilir angin laut.

Simpang Kinol, daerah di tengah kota Padang ini saat malam hari dipenuhi penjual makanan dalam warung-warung tenda. Ada sate kacang, sate ayam, nasi goreng, martabak dan juga soto. Hmm..aroma wangi bawang dan telurpun tercium bersama semilir angin saat melintasi kawasan yang ramai ini.

Kawasan ini juga disebut kampung cina dan nama Kinol diambil dari nama apotik yang ternama di kawasan ini pada masa lalu. Saya memutuskan untuk mengikuti aroma wangi di warung tenda nasi goreng dan martabak yang padat.

Seporsi nasi goreng (Rp.10.000,00) dan bakmi goreng (Rp. 10.000,00) yang saya pesan tak perlu waktu lama untuk disajikan. Pasalnya, nasi goreng ternyata sudah digoreng dan ditaruh dalam termos nasi. Ini mungkin untuk mengantisipasi jumlah pengunjung yang banyak. Nasi goreng dilengkapi dengan kerupuk.

Rasanya tak seheboh aromanya. Gurih sedikit pedas tak ada yang istimewa. Jauh lebih lumayan rasa bakmi goreng yang lebihgurih kuat karena dibalut telur dadar. Gurih wangi dan terasa lebih enak saat disupa dengan acar.

Martabak yang banyak dipesan pengunjung pun akhirnya menggoda saya untuk ikut memesan. Menunggu sedikit lama akhirnya martabak berbentuk segi empat, dipotong-potong, disajikan panas mengepul. Kulitnya tak terlalu 'crunchy' atau renyah, sedikit liat, dan isian daging sapipun tidak terlalu tebal.

Karena kurang puas dengan sajian martabak dan nasi goreng akhirnya sayapun mampir ke warung tenda yang mengepulkan aroma wangi sate. Ya, sate danguang-danguang khas Payakumbuh. Seperti ditulis di spanduknya. Di warung ini dijual sate khas dari Payakumbuh. Hmm... apa ya bedanya dengan sate Mak Syukur dan sate Pariaman?

Rasa penasaran saya terbayar saat seporsi sate danguang-danguang (Rp. 8.000,00) yang disajikan di atas potongan ketupat dan disiram kuah kuning kental hadir di depan saya. Wah, tercium aroma kapulaga yang wangi menusuk hidung, bergantian dengan aroma kunyit dan merica.

Gigitan pertama langsung terasa gurih kenyal, agaknya sate ini dibalut dengan bumbu yang royal dan remahan kelapa yang renyah gurih. Sementara kuahnya kental kekuningan, mirip kuah sate Mak Syukur, hanya saja lebih garang rasa dan aromanya.

Lama kelamaan mulut dan tenggorokan terasa hangat sedikit panas karena rempah yang melimpah dalam racikan sate Payakumbuh ini. Untung saja, di sisi warung ini ada gerobak es tebak. Es campur khas Padang ini memang pas jadi penumpas rasa gurih di mulut.

Isinya komplet. Adonan tepung beras yang dibentuk silender panjang, dipadu dengan cincau, potongan agar-agar warna-warni dan diberi timbunan es serut, sirop merah dan susu kental manis. Manis segar dan sedikit kenyal. Hmm.. puas rasanya jalan-jalan santai di Simpang Kinol ini. Apalagi harga makanan tak terlalu mahal.

Sate Danguang-Danguang Payakumbuh
Simpang Kinol (Kampung Cina)
Padang