Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Liburan Akhir Tahun, BNI Siapkan Rp 12 Triliun di ATM

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyiapkan dana senilai Rp 12 triliun yang digunakan untuk menutup kebutuhan uang tunai sepanjang liburan panjang akhir tahun 2012 dan menyambut pergantian tahun 2013.

Uang tersebut didistribusikan melalui jaringan ATM di seluruh Indonesia untuk menjangkau nasabah yang membutuhkan dana tunai sejak 17 Desember 2012 hingga 31 Desember 2012.

BNI juga tetap mengoperasikan secara terbatas di 157 outlet di seluruh Indonesia untuk melayani nasabah yang akan melakukan tiga kelompok transaksi. Pertama, transaksi penarikan atau setoran rekening BNI. Kedua, pemindahbukuan antar rekening BNI. Ketiga, setoran penerimaan bahan bakar minyak (BBM)/ Non BBM.

Layanan terakhir merupakan model sinergi yang dilakukan antar badan usaha milik negara (BUMN). Dengan menerima setoran BBM, Pertamina akan sangat terbantu aliran uang tunainya.

"Setiap outlet akan beroperasi mulai pukul 08.00 pagi hingga 16.00 petang," jelas BNI dalam siaran persnya, Minggu (23/12/2012).

Adapun alamat outlet yang tetap beroperasi tersebut dapat diperoleh informasinya di alamat situs resmi BNI, yakni http://bni.co.id. Nasabah yang sudah terbiasa bertransaksi di outlet BNI Weekend Banking, kantor BNI yang melayani transaksi pada hari sabtu dan minggu, tetap dapat menikmati layanan perbankan di sana.

Untuk jaringan elektronik, BNI memiliki 8.227 ATM ditambah 25.000 ATM LINK dan 41.000 ATM Bersama, serta fasilitas phone banking 24 jam BNI Call 500046 atau melalui ponsel (021) 500046 dan 68888, serta SMS Banking dan BNI Internet Banking www.bni.co.id untuk kebutuhan transaksi perbankan dengan ratusan fitur transaksi.

Belum Akhir Tahun, Pemerintah Habiskan Rp 186,7 Triliun untuk Subsidi BBM

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi anggaran untuk Subsidi BBM hingga 20 Desember 2012 lalu telah mencapai 135,9% dari pagu APBN-P yang sebesar Rp 137,4 triliun atau telah mencapai Rp 186,7 triliun.

Berdasarkan data yang disampaikan Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawaty, Minggu (23/12/2012), dari realisasi belanja per 20 Desember 2012 yang masih 88,9%, realisasi belanja subsidi telah melebihi target dalam APBN-P 2012 atau mencapai 125,7% dengan nominal Rp 308 triliun.

Hal ini karena besarnya realisasi belanja subsidi energi yaitu BBM dan listrik. Untuk listrik, realisasinya sudah mencapai 128,2% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 yaitu sebesar Rp 64,97 triliun atau telah mencapai Rp 83,3 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja subsidi non energi masih 89,1% atau baru Rp 38 triliun. Pendapatan negara per tanggal 20 Desember pun belum mencapai 100%. Hingga tanggal tersebut realisasi pendapatan negara masih sekitar 91,9% dari target APBN-P 2012 sebesar Rp 1.358,2 triliun atau baru terealisasi Rp 1.247,6 triliun.

Dari realisasi tersebut, sudah tercapai defisit sekitar 1,55% atau Rp 128,2 triliun.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan mengakui anggaran subsidi energi ratusan triliun rupiah yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 tak lagi mencukupi untuk kebutuhan anggaran subsidi energi hingga akhir tahun.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan, terjadi penambahan anggaran subsidi BBM dan listrik.

Untuk subsidi BBM dalam APBN-P 2012, disediakan anggaran Rp 137,4 triliun, tetapi realisasi hingga akhir tahun diperkirakan membengkak hingga Rp 216,8 triliun, atau kurang Rp 79,4 triliun.

"Ini karena terjadi penambahan kuota BBM bersubsidi yang diperkirakan mencapai 43,5 juta KL (kiloliter) hingga akhir tahun atau terdapat penambahan sebesar 3,5 juta KL dari kuota yang ditetapkan dalam APBN-P 2012," ujar Bambang dalam Rapat Badan Anggaran DPR yang diadakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Bambang menambahkan, anggaran subsidi listrik pun akan mengalami kekurangan hingga akhir tahun ini. Dari anggaran subsidi listrik yang ditetapkan di APBN-P 2012 Rp 64,97 triliun, diperkirakan akan melonjak hingga Rp 89,1 triliun, atau kurang Rp 24,1 triliun.

Dari perhitungan tersebut di atas, maka dibutuhkan tambahan anggaran Rp 103,5 triliun. "Total subsidi BBM dan elpiji diperkirakan menjadi Rp 305,9 triliun," tegas Bambang.

Penyebab lonjakan anggaran subsidi ini, lanjut Bambang, adalah realisasi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang berada di atas asumsi APBN-P 2012 sebesar US$ 105 per barel. Padahal Januari hingga September ini, realisasi harga minyak mencapai US$ 114,4 per barel. Selain itu, ada juga perubahan nilai tukar yang diperkirakan Rp 9.000 menjadi Rp 9.250 per dolar AS, dan keterlambatan asupan listrik dari tenaga uap.


Dirjen Akui Penerimaan Pajak Tahun Ini Anjlok

Jakarta - Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Kementerian Keuangan Fuad Rahmany mengakui penerimaan pajak tahun ini bakal tidak mencapai target APBN-P 2012. Hal ini disebabkan anjloknya ekspor Indonesia dan turunnya harga komoditas tambang.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 20 Desember 2012, realisasi penerimaan perpajakan baru sebesar Rp 943,1 triliun atau 92,8% dari target APBN-P 2012 sebesar Rp 1.016 triliun.

Penerimaan Bea Cukai sendiri telah melebihi target. Sampai dengan 18 Desember 2012, penerimaan negara dari sektor ini telah mencapai Rp139,85 triliun. Padahal target pemerintah hingga akhir tahun diharapkan tercapai Rp131,2 triliun. Namun, realisasi secara total belum capai 100% karena anjloknya penerimaan dari pajak.

"Yang paling anjlok penerimaan pajaknya dari sektor pertambangan dan manufaktur, khususnya yang berorientasi ekspor," ujar Fuad kepada detikFinance, Minggu (23/12/2012).

Fuad menambahkan hal tersebut terjadi karena perlambatan ekonomi global yang telah mengurangi impor dunia terhadap produk-produk ekspor tanah air seperti tekstil, elektronik, serta hasil tambang. Selain itu, lanjut Fuad, harga komoditas tambang dan perkebunan yang menurun menyebabkan turunnya laba perusahaan tambang dan perkebunan.

"Ditambah lagi harga komoditas tambang dan perkebunan turun, sehingga laba usaha perusahaan-perusahaan di sektor-sektor tersebut anjlok, dan sebagai akibatnya pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) mereka juga anjlok cukup signifikan," tegasnya.

Menurut Fuad, perlambatan penerimaan pajak ini sudah terlihat trennya sejak memasuki semester kedua tahun 2012 ini. Penerimaan pajak memang mulai melambat karena perlambatan ekonomi dunia telah mulai berdampak kepad dunia usaha kita yang berada di sektor-sektor yang merupakan sumber pajak yang dominan.

"Semua ini telah menyebabkan penerimaan pajak tahun ini sulit sekali dapat mencapai target yang telah ditetapkan dalam APBN 2012," ujarnya.

Namun, tambah Fuad, pihak Ditjen Pajak akan terus berjuang keras mengejar penerimaan pajak hingga akhir tahun yaitu 31 Desember 2012. Meskipun, pada tanggal tersebut, pemerintah telah menetapkan cuti bersama bagi PNS.

"Sampai detik-detik terakhir tahun 2012 ini, kepada Wajib Pajak diberitahukan meskipun ada cuti bersama tanggal 31 Desember, namun kantor Pelayanan Pajak dan bank-bank penerima pembayaran pajak tetap buka tanggal 31 Desember sampai jam 3 siang," pungkasnya.


Sabtu, 22 Desember 2012

Gaji Naik, Pramugari Cathay Pacific Batal Mogok Senyum ke Penumpang

Hong Kong - Pramugari maskapai penerbangan asal Hong Kong, Cathay Pacific kini bisa bernafas lega. Gaji para pramugari yang mengancam mogok tersenyum ke para penumpangnya ini akhirnya dinaikkan sesuai permintaan.

Seperti diberitakan BBC, Jumat (21/12/2012), perseteruan antara serikat pekerja Cathay Pacific (FAU) dengan manajemen dan pemegang saham telah selesai. Kenaikan gaji yang diminta hingga 5% akhirnya diberikan oleh pihak pemegang saham dan manajemen.

Serikat Pramugari maskapai penerbangan Cathay Pacific sebelumnya memberikan peringatan ke penumpangnya soal kualitas pelayanan yang akan turun drastis. Pasalnya, kenaikan gaji yang dituntut para pramugari tersebut tak terpenuhi.

FAU mengatakan anggotanya sedang mempertimbangkan untuk menolak menyajikan makanan atau minuman alkohol, atau bahkan mogok senyum pada penumpang saat puncak masa-masa liburan beberapa minggu ke depan. FAU juga mempertimbangkan mogok kerja, namun aksi tersebut baru akan terlaksana setelah tahun baru.

Cathay Pacific November lalu menyetujui kenaikan gaji sebesar 2% per 2013 ditambah bonus senilai gaji satu bulan. Namun, FAU menuntut kenaikan gaji 5%, merujuk pada tingkat inflasi.

Serikat pramugari tersebut mengancam akan melaksanakan aksinya, termasuk memberikan pelayanan dengan standar terendah, atau dengan sengaja mempermasalahkan langkah-langkah keamanan dalam penerbangan yang bisa menyebabkan orang enggan menggunakan layanan Cathay.

Contohnya, para pramugari bisa berlaku sangat ketat terkait batas ukuran koper yang boleh naik ke kabin. Hal ini bisa menyebabkan penerbangan mengalami penundaan.